Popular Posts
-
Storyboard/Storyline adalah sketsa gambar yang disusun berurutan sesuai dengan naskah, dengan storyboard kita dapat menyampaikan ...
-
Bidang pandangan atau framing adalah suatu langkah pengambilan gambar yang harus menentukan luas bidang pandangan untuk suatu obyek utama d...
-
1. Cable Release Fungsi dari alat ini adalah sebagai pengganti tombol pelepas rana. Alat ini akan memudahkan fotografer ketika men...
-
Camera Angle adalah suatu sudut pandang dalam mengambil gambar suatu objek, pemandangan, maupun sebuah adegan. Dengan sudut tertentu kita d...
-
Jenis-jenis Format Video ==> Format MP4 MP4 adalah salah satu format berkas pengodean suara dan gambar/video digital yang dikeluark...
-
1. Letakkan motherboard pada tempat yang datar dan jangan lupa beri alas dengan permukaan yang lembut agar motherboard tidak tergores atau p...
-
Peganglah kamera dengan mantap. Gunakan satu tangan untuk memegang kamera dan mengoperasikan kontrol zoom, dan tangan yang lain untuk menja...
-
10 Langkah Membuat Film Pendek ! Dalam membuat film pendek tidaklah sulit dan mahal. Membuat film pendek yang sederhana hanya membutuhkan...
-
Menjelaskan prosedur pengoperasian kamera video 1. Memasang baterai pada tempat baterai yang berada di bagian belakang badan handy kamer...
-
1. Betacam Betacam merupakan format analog pengganti U-Matic dalam penggunaan video untuk penyiaran ( broadcasting ). Semua stasiun TV di...
Diberdayakan oleh Blogger.
Blog Archive
Proses Produksi Film dapat dikatakan sebagai sebuah system, artinya antara komponen yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Kegagalan pada salah satu proses akan menyebabkan sulitnya membuat film yang enak ditonton dan mempunyai kesinambungan yang utuh. Proses produksi yang dimulai dari adanya suatu ide yang kemudian dikembangkan dalam bentuk naskah dan akhirnya di visualisasikan menjadi sebuah bentuk film yang kemudian harus di evaluasi untuk mengetahui mutu dari film tersebut melibatkan orang – orang yang kompeten di bidangnya, berdedikasi tinggi dan mempunyai kemampuan untuk bekerjasama dalam tim yang baik.
Sebelum membuat cerita film, kita harus menentukan tujuan pembuatan film. Hanya sebagai hiburan, mengangkat fenomena, pembelajaran/pendidikan, dokumenter, ataukah menyampaikan pesan moral tertentu. Hal ini sangat perlu agar pembuatan film lebih terfokus, terarah dan sesuai. Mengembangkan naskah ke dalam program video siap pakai melalui tahapan-tahapannya : Tahap Pra Produksi, Tahap Produksi, Tahap Pasca Produksi. Dalam produksi film sangat erat kaitannya dengan kerabat kerja atau tim atau crew pelaksana pembuatan film dan deskripsi kerjanya masing-masing.
Sebelum membuat cerita film, kita harus menentukan tujuan pembuatan film. Hanya sebagai hiburan, mengangkat fenomena, pembelajaran/pendidikan, dokumenter, ataukah menyampaikan pesan moral tertentu. Hal ini sangat perlu agar pembuatan film lebih terfokus, terarah dan sesuai. Mengembangkan naskah ke dalam program video siap pakai melalui tahapan-tahapannya : Tahap Pra Produksi, Tahap Produksi, Tahap Pasca Produksi. Dalam produksi film sangat erat kaitannya dengan kerabat kerja atau tim atau crew pelaksana pembuatan film dan deskripsi kerjanya masing-masing.
Adapun salah satu contohnya :
Script Supervisor, Script Clerk atau Pencatat Adegan : Bertanggungjawab untuk mencatat seluruh adegan dan pengambilan gambar yang diproduksi. termasuk semua informasi yang diperlukan seperti durasi, arah gerakan, pengarahan mimik wajah, penempatan aktor/aktris dan properti, serta gerakan fisik yang harus disesuaikan aktor/aktris dalam semua cakupan yang berurutan untuk kemungkinan pengambilan gambar ulang. Semua informasi ini dimasukkan dalam salinan naskah milik supervisi naskah dan digunakan oleh editor ketika tahap editing. Dalam salinan ini juga dimasukkan catatan dari sutradara untuk editor.
Bidang pandangan atau framing adalah suatu langkah pengambilan gambar yang harus menentukan luas bidang pandangan untuk suatu obyek utama dan obyek lainnya dalam hubungannya dengan latar belakang.
Macam Bidang Pemandangan Gambar :
1. ELS ( Extreme Long Shot)
2. LS (Long Shot)
3. MLS (Medium Long Shot)
4. MS (Medium Shot)
5. MCU (Medium Close Up)
6. CU (Close UP)
7. BCU ( Big Close Up)
8. ECU (Extreme Close Up)
2. LS (Long Shot)
3. MLS (Medium Long Shot)
4. MS (Medium Shot)
5. MCU (Medium Close Up)
6. CU (Close UP)
7. BCU ( Big Close Up)
8. ECU (Extreme Close Up)
-ELS ( Extreme Long Shot)
Shot sangat jauh, menyajikan bidang pandangan yang sangat luas, kamera mengambil keseluruhan pandangan. Obyek utama dan obyek lainnya nampak sangat kecil dalam hubungannya dengan latar belakang.
-LS (Long Shot)

Shot sangat jauh, menyajikan bidang pandangan yang lebih dekat dibandingkan dengan ELS, obyek masih didominasi oleh latar belakang yang lebih luas.
Shot sangat jauh, menyajikan bidang pandangan yang lebih dekat dibandingkan dengan ELS, obyek masih didominasi oleh latar belakang yang lebih luas.
- MLS (Medium Long Shot)
Shot yang menyajikan bidang pandangan yang lebih dekat dari pada long shot, obyek manusia biasanya ditampilkan dari atas lutut sampai di atas kepala.
- MS (Medium Shot)
Di sini obyek menjadi lebih besar dan dominan, obyek manusia ditampakkan dari atas pinggang sampai di atas kepala. Latar belakang masih nampak sebanding dengan obyek utama.
- MCU (Medium Close Up)
Shot amat dekat, obyek diperlihatkan dari bagian dada sampai atas kepala. MCU ini yang paling sering dipergunakan dalam televise.
- CU (Close UP)
Shot dekat, obyek menjadi titik perhatian utama di dalam shot ini, latar belakang nampak sedikit sekali. Untuk obyek manusia biasanya ditampilkan wajah dari bahu sampai di atas kepala
- BCU ( Big Close Up)

Shot yang menampilkan bagian tertentu dari tubuh manusia. Obyek mengisi seluruh layar dan jelas sekali detilnya
Shot yang menampilkan bagian tertentu dari tubuh manusia. Obyek mengisi seluruh layar dan jelas sekali detilnya
Camera Angle adalah suatu sudut pandang dalam mengambil gambar suatu objek, pemandangan, maupun sebuah adegan. Dengan sudut tertentu kita dapat menghasilkan suatu shot yang menarik, dengan perspektif yang unik dan menciptakan kesan tertentu pada gambar yang disajikan.
Sudut Pandang Pengambilan Gambar dibagi menjadi 6, yaitu :
* Normal Angle : Kamera ditempatkan setinggi mata objek. Normal angle tergantung pada ketinggian suatu objek tersebut.
* High Camera Angle : Posisi kamera berada lebih tinggi dari mati objek sehingga kamera harus menunduk untukmengambil gambarnya. Sudut pandang ini sangat berguna untuk mempertunjukkan keseluruhan set beserta seluruh objeknya.
* Low Camera Angle : Posisi kamera berada di bawah ketinggian mata sehingga kamera harus mendongak untuk melakukan shot.
* Bird Eye View : Pengambilan gambar objek dari atas
* Subjective Camera Angle : Posisi kamera diletakkan di tempat seorang karakter yang tidak nampak dalam layer dan mempertunjukkan pada penonton suatu pandangan dari sudut pandang karakter.
* Objective Camera Angle : Melakukan shot seperti apa adanya (Asli)
Persiapan peralatan yang memadai
Memory card dan baterai. Kini, hampir seluruh kamera digital dan smartphone dapat memutar film dengan resolusi HD. Hal ini merupakan tantangan besar bagi memory card karena film membutuhkan banyak memori dan tingkat kecepatan pemindahan data yang tinggi. Misalkan saja, sebuah film berdurasi 12 menit dengan resolusi 1920×1080 pixel membutuhkan memori 4 GB. Memory card yang cocok untuk film biasanya bertanda “HD Video” atau “class 10″. apabila memory card terlalu lambat, gambar tidak akan terekam dengan baik. Dalam pembuatan film, baterai akan cepat habis, oleh karenanya sediakan baterai cadangan.
Berbagai pilihan lensa. Bukan hanya fotografer saja yang harus memiliki perlengkapan lensa, seorang pembuat film yang menggunakan DSLR pun wajib memilikinya. Lensa dengan jarak fokus tertentu dan memiliki aperture yang besar dapat menghasilkan efek film yang menakjubkan. Tidak perlu menggunakan lensa yang mewah. Anda pun juga dapat bermain lensa pada berbagai smartphone yang memiliki komposisi yang berbeda-beda, walau lensa pada smartphone tidak sebagus lensa kamera DSLR.
Mikrofon eksternal. Kelemahan dari DSLR terletak pada mikrofon. Karena sebagian besar kamera DSLR hanya merekam dengan kualitas mono, suara-suara dari autofocus dan zoom juga ikut terekam. Untuk mencegahnya, tersedia sebuah mikrofon eksternal yang mendukung kamera DSLR. Pada berbagai smartphone, mikrofon biasanya dapat disam\bungkan melalui colokan headphone. Mikrofon sering kali memiliki port dan jack yang berbeda. Anda dapat menggunakan adaptor yang berfungsi mengubah konfigurasinya.
Menyesuaikan situasi cahaya. Cahaya merupakan salah satu elemen desain terpenting dalam perekaman film karena cahaya mempengaruhi suasana dan menentukan ketajaman gambar. Sebelum pengambilan gambar, lakukanlah pengaturan white balance. Pastikan juga, Anda tidak mencampur cahaya matahari dengan cahaya buatan karena dapat menyebabkan perubahan warna. Selain itu, jangan mereka video dalam posisi yang berlawanan dengan cahaya karena objek yang terekam akan terlihat menjadi hitam atau gelap.
Perekaman: Trik saat shooting
Membuat gambar video menjadi lebih stabil. Tanpa bantuan apapun, para profesional tidak dapat membuat film yang tidak goyang. Pilihan terbaik adalah menggunakan tripod yang sekarang juga telah tersedia untuk berbagai smartphone. Apabila Anda tidak memiliki tripod, Anda dapat menopangnya dengan tangan, Dalam keadaan darurat, tali pada kamera DSLR juga bisa membantu. Kenakan tali kamera, kemudian tarik kamera tersebut menjauhi Anda sehingga tali kamera menegang dan menghasilkan video yang lebih stabil.
Tingkat ketajaman gambar dan frame rate. Berbagai kamera DSLR menawarkan feature yang pada umumnya hanya bisa Anda temukan pada alat perekam video profesional yang mahal dan terlalu sulit digunakan para pemula. Membuat film pada siang hari dengan menggunakan tingkat aperture yang tinggi tanpa alat bantu apapun tidak mungkin bisa dilakukan karena gambarnya menjadi terlalu terang. Dalam kasus ini Anda harus menggunakan filter. Menemukan frame rate yang tepat merupakan hal yang sulit dan bergantung pada objeknya. Pada umumnya, Anda harus mengatur kecepatan pada 25 fps (frame per second) atau 50 fps. Frame rate 50 fps paling cocok untuk perekaman dari gerakan slow motion.
Pemilihan rekaman video. Pengambilan video dengan angle yang sama akan membosankan. Sebelum Anda membuat film, sebaiknya pertimbangkan terlebih dulu hal yang ingin Anda tampilkan. Langkah selanjutnya adalah pengambilan setengah gambar yang terfokus pada sebuah objek tertentu. Terakhir, cobalah untuk mengambil gambar dengan jarak dekat untuk menampilkan karakter yang lebih spesifik. Melalui pergantian gambar tersebut, film akan terlihat lebih hidup dan lebih dinamis.
Bermain dengan berbagai sudut. Selain potongan gambar, sudut pengambilan gambar juga menentukan dinamika sebuah film. Setting standar dalam pembuatan film selalu sejajar dengan mata. Jika Anda merekam dari bawah ke atas, objek yang ditampilkan akan terlihat besar dan gagah perkasa. Apabila Anda memilih posisi pengambilan yang lebih tinggi, objek akan terlihat kecil. Apabila Anda ingin menampilkan sebuah objek secara lebih jelas, sebaiknya Anda melangkah maju mendekatinya.
Persiapan peralatan yang memadai
Memory card dan baterai. Kini, hampir seluruh kamera digital dan smartphone dapat memutar film dengan resolusi HD. Hal ini merupakan tantangan besar bagi memory card karena film membutuhkan banyak memori dan tingkat kecepatan pemindahan data yang tinggi. Misalkan saja, sebuah film berdurasi 12 menit dengan resolusi 1920×1080 pixel membutuhkan memori 4 GB. Memory card yang cocok untuk film biasanya bertanda “HD Video” atau “class 10″. apabila memory card terlalu lambat, gambar tidak akan terekam dengan baik. Dalam pembuatan film, baterai akan cepat habis, oleh karenanya sediakan baterai cadangan.
Berbagai pilihan lensa. Bukan hanya fotografer saja yang harus memiliki perlengkapan lensa, seorang pembuat film yang menggunakan DSLR pun wajib memilikinya. Lensa dengan jarak fokus tertentu dan memiliki aperture yang besar dapat menghasilkan efek film yang menakjubkan. Tidak perlu menggunakan lensa yang mewah. Anda pun juga dapat bermain lensa pada berbagai smartphone yang memiliki komposisi yang berbeda-beda, walau lensa pada smartphone tidak sebagus lensa kamera DSLR.
Mikrofon eksternal. Kelemahan dari DSLR terletak pada mikrofon. Karena sebagian besar kamera DSLR hanya merekam dengan kualitas mono, suara-suara dari autofocus dan zoom juga ikut terekam. Untuk mencegahnya, tersedia sebuah mikrofon eksternal yang mendukung kamera DSLR. Pada berbagai smartphone, mikrofon biasanya dapat disam\bungkan melalui colokan headphone. Mikrofon sering kali memiliki port dan jack yang berbeda. Anda dapat menggunakan adaptor yang berfungsi mengubah konfigurasinya.
Menyesuaikan situasi cahaya. Cahaya merupakan salah satu elemen desain terpenting dalam perekaman film karena cahaya mempengaruhi suasana dan menentukan ketajaman gambar. Sebelum pengambilan gambar, lakukanlah pengaturan white balance. Pastikan juga, Anda tidak mencampur cahaya matahari dengan cahaya buatan karena dapat menyebabkan perubahan warna. Selain itu, jangan mereka video dalam posisi yang berlawanan dengan cahaya karena objek yang terekam akan terlihat menjadi hitam atau gelap.
Perekaman: Trik saat shooting
Membuat gambar video menjadi lebih stabil. Tanpa bantuan apapun, para profesional tidak dapat membuat film yang tidak goyang. Pilihan terbaik adalah menggunakan tripod yang sekarang juga telah tersedia untuk berbagai smartphone. Apabila Anda tidak memiliki tripod, Anda dapat menopangnya dengan tangan, Dalam keadaan darurat, tali pada kamera DSLR juga bisa membantu. Kenakan tali kamera, kemudian tarik kamera tersebut menjauhi Anda sehingga tali kamera menegang dan menghasilkan video yang lebih stabil.
Tingkat ketajaman gambar dan frame rate. Berbagai kamera DSLR menawarkan feature yang pada umumnya hanya bisa Anda temukan pada alat perekam video profesional yang mahal dan terlalu sulit digunakan para pemula. Membuat film pada siang hari dengan menggunakan tingkat aperture yang tinggi tanpa alat bantu apapun tidak mungkin bisa dilakukan karena gambarnya menjadi terlalu terang. Dalam kasus ini Anda harus menggunakan filter. Menemukan frame rate yang tepat merupakan hal yang sulit dan bergantung pada objeknya. Pada umumnya, Anda harus mengatur kecepatan pada 25 fps (frame per second) atau 50 fps. Frame rate 50 fps paling cocok untuk perekaman dari gerakan slow motion.
Pemilihan rekaman video. Pengambilan video dengan angle yang sama akan membosankan. Sebelum Anda membuat film, sebaiknya pertimbangkan terlebih dulu hal yang ingin Anda tampilkan. Langkah selanjutnya adalah pengambilan setengah gambar yang terfokus pada sebuah objek tertentu. Terakhir, cobalah untuk mengambil gambar dengan jarak dekat untuk menampilkan karakter yang lebih spesifik. Melalui pergantian gambar tersebut, film akan terlihat lebih hidup dan lebih dinamis.
Bermain dengan berbagai sudut. Selain potongan gambar, sudut pengambilan gambar juga menentukan dinamika sebuah film. Setting standar dalam pembuatan film selalu sejajar dengan mata. Jika Anda merekam dari bawah ke atas, objek yang ditampilkan akan terlihat besar dan gagah perkasa. Apabila Anda memilih posisi pengambilan yang lebih tinggi, objek akan terlihat kecil. Apabila Anda ingin menampilkan sebuah objek secara lebih jelas, sebaiknya Anda melangkah maju mendekatinya.
ALAT PENDUKUNG KAMERA
- Tripod, penyangga kamera yang terdiri dari tiga kaki.
- Monopod, penyangga kamera yang hanya mempunyai satu kaki.
- Dolly, penopang kamera diatas roda yang bisa digerakkan keberbagai arah, biasanya berjalan diatas rel dan mempunyai 4 roda.
- Cam Crane, alat penopang kamera berbentuk pipa panjang yang disalah satu ujungnya diletakkan kamera dan ujung lainnya diberi pemberat.
- Jimmy Jib, semacam Cam Crane yang diberi remote head yang dikontrol oleh operator kamera.
- Filter, plastic atau kaca yang diletakkan diatas lensa kamera untuk memberikan suasana tertentu.
Tips Merekam Video Dengan Sempurna
Jika memungkinkan, selalu pergunakanlah manual focus.
Jika memungkinkan, selalu pergunakanlah manual focus.
- Atur white balance pada setiap perpindahan lokasi atau pergantian sumber pencahayaan.
- Jika melakukan pengambilan gambar di luar ruangan (outdoor shooting), posisikan matahari di belakang anda. Begitu juga sumber pencahayaan lainnya.
- Gunakan tripod atau alat bantu lainnya.
- Dalam kondisi rekaman tanpa alat bantu (handhelds), pegang dan kendalikan kamera video Anda sedemikian rupa agar hasil rekaman tetap stabil (andaikan sebagai secangkir kopi panas).
- Gunakan zooming hanya untuk menata komposisi ambilan gambar. Hindari penggunaannya pada saat merekam (rolling), kecuali jika ada maksud untuk tujuan tertentu atau memang disengaja karena hasil rekaman akan diproses lebih lanjut (editing).
- Shoot to edit. Pastikan untuk memproses lebih lanjut setiap hasil rekaman Anda (editing). Untuk itu, rekaman video harus diciptakan dan dipersiapkan sedemikian rupa agar siap untuk diproses lebih lanjut (variasi dan kelengkapan gambar, durasi setiap shot, menghindari fasilitas kamera yang tidak diperlukan, dsb.)
- Jaga durasi setiap shot. Jangan terlalu panjang dan monoton (tanpa variasi), namun juga jangan terlalu pendek. Minimal antara 8 hingga 10 detik. Tidak ada batas maksimal karena tergantung action yang direkam. Namun sebaik sudah mulai merekam 3 hingga 5 detik sebelum action berlangsung. Berikan durasi yang sama setelah action berlangsung.
- Jaga setiap shot dalam kondisi steady tanpa pergerakan kamera, setidaknya selama 10 detik. Jika suatushot akan berisi pergerakan kamera, berikan awalan dan akhiran dalam kondisi steady dengan durasi setidaknya 3 hingga 5 detik.
1. Betacam
Betacam merupakan format analog pengganti U-Matic dalam penggunaan video untuk penyiaran (broadcasting). Semua stasiun TV diwajibkan menggunakan format Betacam dan yang ingin memutar videonya di televisi, wajib menyerahkan dalam format Betacam. Setelah mendominasi sistem video dunia penyiaran televisi, peralatan penyiaranpun didominasi dengan label “BETACAM Support/Compatible”, mulai dari Kamera Video, Video Switcher, bahkan hingga Sistem Penyiaran RF (Radio Frekuensi).
Stasiun-stasiun televisi swasta di Indonesia yang muncul di tahun 1987 – 1995 berinvestasi dengan sistem Betacam dan sistem penyiaran serta teknologi video Betacam masuk ke Indonesia mulai tahun 1987 (dimulai dari TVRI).
Betacam terus dikembangkan oleh SONY untuk mempertahankan format dari Betacam yang pernah ‘mendewa’. Apapun format video Betacam, akan tetap bertahan menggunakan jenis kaset yang sama.
Betacam terdiri dari 2 macam yaitu: Betacam digital yang berawarna biru & Betacam analog yang berwarna abu-abu.
2. DV
DV merupakan format perekaman standar digital video yang mampu memproduksi gambar berukuran 720 x 576 (PAL) dan 720 x 480 (NTSC) dengan kemampuan penangkapan garis horizontal maksimal 576 line. Teknologi DV dikompresi dengan rasio 5:1 dan menghasilkan bitrate 25Mb/detik atau jika di transfer ke hard disk untuk diproses lebih lanjut, format DV menghabiskan 13,2Gb/jam. Dengan sistem Intraframe Compression, data yang ada pada kaset DV dapat di transfer secara digital dengan menggunakan teknologi Firewire (Applecode : IEEE/1394) atau yang biasa disebut dengan i-Link untuk membuat DV tidak kehilangan kualitas pada hambatan yang terdapat dalam kabel koneksi analog (seperti pada kabel komponen Y’CbCr/BNC). Teknologi transfer data video digital ini dibuat karena memang teknologi DV dirancang untuk diedit secara digital (Non-Linear Editing) atau editing dengan menggunakan software editing pada komputer.
3. Mini DV
Mini DV merupakan bentuk pertama dari pengemasan format DV, yang disebut “S-Size DV”. Pita kaset Mini DV dengan kesepakatan bersama menjadi kaset standar teknologi DV. Bentuk kasetnya kecil dan ringkas. Harganya pun hanya berkisar antara Rp. 15.000 hingga Rp. 20.000 per kaset. Media Mini DV pun sanggup untuk merekam format DVCam atau DVCPRO. Jika Mini DV (rata-rata berdurasi 62 menit) direkam dengan menggunakan format DVCam atau DVCPRO, maka durasinya akan berkurang 22%, hal ini dikarenakan format DVCam maupun DVCPRO membutuhkan daya putar lebih cepat dari pada format perekaman menggunakan format DV.
Pada teknologi digital, jenis kaset tidak menentukan kualitas gambar. Yang menentukan adalah format & cara perekaman gambar, yang meliputi cara mengkompresi gambar yang ditentukan oleh codec/compressor dan juga proses merubah energi cahaya ke dalam bentuk digital pada saat pengambilan gambar oleh processor kamera tergantung kemampuan kamera kita.
4. Pita Kaset Analog
Pita Kaset Analog cukup lama berjaya sejak awal ditemukannya pita video. Video analog (berupa gelombang transfersal) adalah sebuah media yang menggunakan sinyal-sinyal analog. Sinyal-sinyal analog tersebut berisi luminance (brightness) dan chrominance (warna). Karena pita video analog membawa warna dan ketajaman, maka kualitas gambar juga ditentukan dari format pita videonya.
5. VCD
VCD adalah kompresi MPEG-1 dengan ukuran gambar yang sangat kecil, yaitu 352 x 288 (PAL), 350 x 240 (NTSC) sebanyak 200 line.
6. DVD
DVD-Video (Digital Versetail Disc Video) bekerja mirip dengan VCD, dimana data video ditulis dalam kepingan DVD. Ketika dibaca oleh player, baru software yang ada di dalam player menterjemahkan data tersebut sebagai data video. Hanya saja yang berbeda, video yang berformat DVD menggunakan kompresi MPEG-2 dan mampu menghasilkan gambar seukuran DV, yaitu 720 x 576 (PAL) dan 720 x 480 (NTSC) dengan jumlah garis horizontal 576 line. Bitrare pada DVD lebih fleksibel, tergantung kualitas yang diinginkan. Semakin kecil bitrate yang digunakan, semakin kecil pula file video yang dihasilkan, dan semakin banyak pula durasi video yang dapat di tampung pada satu keping DVD. Bitrate yang banyak digunakan antara lain 3000kb/detik (untuk durasi 120 menit), 6000kb/detik (90 menit) dan 9000kb/detik (60 menit).
7. HDCamHDCAM dapat merekam gambar dengan kompresi Uncompressed, dan beresolusi gambar 1920 x 1080 dan ini adalah awal munculnya format HD. Teknologi HDCam dan DVCPRO HD membutuhkan kecepatan transfer data sebesar 100mb/detik. Kecepatan yang sulit untuk mendapat dukungan komputer konsumen saat ini. Sehingga format ini didesain untuk proses editing linear menggunakan kabel komponen Y’CbCr.
8. Video Home System
Video Home System (VHS) merpuakan format video dengan lebar penampang pita 16mm yang dikeluarkan oleh pendatang video baru dari Jepang, Japan Victor Company (JVC) di tahun 1976. VHS memiliki durasi putar lebih lama (maksimal 180 menit). Sementara saat dipercepat (play-fastforward) atau dimundurkan (play-rewind), VHS dapat menghasilkan gambar yang bersih.
Resolusi video yang dihasilkan adalah 350 x 311px, 250line.
9. Pita Kaset Video Digital
Format Video Digital merupakan sebuah format yang menjadikan pita magnetik kaset sebagai media penyimpanan data (secara digital), bukan media penyimpanan gelombang transfersal video (seperti pada analog). Alhasil, pada kaset video digital, kualitas bukan ditentukan oleh kaset, karena kaset hanya digunakan sebagai media penyimpanan data yang memiliki kemampuan menyimpan data hingga sebesar 25Mb/detik dan kemampuan mereproduksi garis-garis horizontal sebanyak 520 lines.
Dalam video digital ada 2 unsur yang berbeda, yaitu: Jenis Kaset Video itu sendiri (yang berupa pita magnetik biasa) dan Jenis Format Perekaman Video. Kaset hanyalah media penyimpanan.
10. HDV (High Definition Video)
HDV adalah teknologi yang ditujukan untuk mengganti teknologi DV. HDV merupakan format dan pendatang baru yang mampu menggebrak dunia penyiaran maupun perfileman. Karena dengan niat mengganti teknologi DV, format HDV pun direkam di atas media DV (kaset DVCam & Mini DV). Di dalam kaset DV, HDV dapat direkam ke dalam 2 sistem, yaitu: PAL dan NTSC. Pada format HDV pula, perbedaan ukuran gambar di kedua sistem tidak lagi tampak. Yang tersisa adalah jumlah bingkai di setiap detiknya. PAL tetap bertahan pada 25fps (25p/50i) dan sementara NTSC pada 30fps (30p/60i).
Ukuran gambar yang dihasilkan HDV (PAL maupun NTSC) adalah 1440 x 1080 (yang kemudian akan menyesuaikan dengan ukuran HD sebenarnya 1920 x 1080).
HDV menghasilkan bitrate yang sama dengan DV yaitu 25mb/detik, karena HDV menggunakan sistem kompresi Interframe MPEG2-GOPs dan merekam dengan mengelompokan gambar.
Pada PAL, 25fps di pepatkan menjadi 12 GOPs (Group of Pictures), sementara pada NTSC, 30 gambar dipepatkan menjadi 15 GOPs. GOPs merupakan teknologi baru pada video digital yang dapat mengelompokkan beberapa gambar dalam satu kelompok gambar pada saat penyimpanan yang kemudian akan dipisahkan kembali ketika frame tersebut dibaca atau di playback.
Dalam siaran HDV, kebutuhan Color Sampling tidak lagi dibutuhkan karena siaran sudah menggunakan sistem digital, yang artinya kualitas tidak akan turun pada kabel koneksi dan gelombang siaran mereka, karena koneksi gambar dan gelombang siaran sudah menyiarkan gelombang digital berupa data-data biner dan ketika ditangkap oleh pesawat televisi konsumen gelombang digital tersebut langsung di proyeksikan oleh televisi HD yang biasa berupa televisi LCD (Liquid Crystal Device) atau plasma TV.